Si Ngatini
“Tin, sido muduk kene ?” (Tin jadi turun disini ?) Ratno sopir berteriak dari belakang
kemudi, menatap takut takut kea rah spion.
“Yo, kang muduk kene” (Ya mas,Turun disini ) Ngatini mengemas tenggok berisi gabah
yang dia bungkus kain. Lalu melompat dari Colt Ratno. Nyaris dia tergelincir dan
terpeleset.
“Ngati - ngati tho mbok - mbok” (hati - hati ta bu bu ) teriak rekan rekan
seperjalanannya melihat tingkah polah Ngatini.
“Yen Loro ,mengko rak repot kabeh mbok -mbok “ (kalau kamu sakit kan repot semua bu bu ) Tumini
terlihat khawatir, melihat Ngatini mengaduh pelan. “Ajur karo bojomu mengko” (hancur dengan suamimu nanti {di hajar} )
imbuhnya , disambut tawa orang satu colt.
“Wes Matursuwun” (terimakasih )Teriak Ngatini seolah biasa saja , dan mengangguk seperti
biasanya dan berlalu setelah rombongan itu pergi.
Ngatini berjalan pelan menuju dusunnya, lelah dan pegal
pegal terasa menjalar dikakinya, tungkai kakinya terasa panas, dan dia
menyadari itu kelemahannya saat ini. Kakinya tidak sekuat dulu untuk berjalan.
Badannya tak seringan dulu saat bekerja. Pandangannya tak sejelas dulu saat
memotong padi. Kadang ani-ani yang dia pakai tetiba terlepas dari pegangan,
memaksanya membungkukan badan untuk mengambilnya ditanah yang becek.
Kalau dulu Ngatini terkenal dengan panggilan “Mbak Ngat”,
Sekarang dia terkenal dengan” Mbok Ngat” . Umur dan Tahun memang tak bisa
berhenti, selalu bertambah dan berjalan. Sekarang dia hanya sendiri berjalan
melewati Alas ini, naik turun bukit sendiri, dia tak tahu kapan terakhir
berjalan dengan teman teman seprofesinya. Tertawa atau menertawakan nasib mereka sendiri saat
pulang dari buruh memanen padi. Rekan sejawatnya sekarang sudah pensiun atau menghadap sang ilahi.
Tinggal dia sendiri.
Sebenarnya Ngatini berkeinginan berhenti dari ini semua tapi
apalah daya ,hanya ini yang bisa dia lakukan, malu baginya berhutang beras,
demi orang rumah, ada empat orang dan satu bayi yang harus dia hidupi.
Hujan tiba-tiba mengguyur, Ngatini berusaha berjalan cepat.
Rinai hujan mulai membasahi Tenggok yang ada di punggungnya, badannya mulai
basah kuyup dalam hati dia berdoa semoga
tidak ada petir yang lewat saat dia melintas di mbulak gede, dia tak ingin
seperti Tukimin, Anak sulungnya yang tersambar Petir dan merenggang nyawa di
depan matanya. Ngatini mempelebar
langkah kakinya, berharap segera sampai dirumah.
“Mbok, mbok” (ibu- ibu )sayup sayup dia mulai mendengar suara Harmo
teriak menjerit memanggil namanya. Ngatini yakin Itu suara harmo, anaknya yang
keterbelakangan mental. Dia selalu bingung dan panik saat hujan turun, entah apa
yang ada dalam fikirannya.
“Mboke Aku wedi mbok Udan ,mbok ndang mulih mbok “ (Ibu aku takut bu, hujan bu lekas pulang) terdengar
lagi suara tangis Harmo semakin jelas. Ngatini semakin mempercepat langkahnya.
Hujan semakin deras saat dia masuk kerumah, setelah
memenangkan Harmo yang menangis di depan pintu seperti anak TK yang ditinggal
ibunya. Ngatini mengendong bayi Nayu. Yang entah harus dia panggil apa, dan entah
dimana sekarang ibunya Nayu sang mantu sekaligus janda Tukimin. Hanya satu yang
dia tahu dari suara derit balai-balai kamar belakang yang dia dengar saat masuk rumah tadi. Ngatini tahu disanalah
suami dan menantunya berada, memuaskan
nafsu setan mereka tanpa tahu Ngatini sudah pulang
.
Komentar
Posting Komentar