Mengajarkan Toleransi pada Anak
Hidup merantau mengajarkan kita akan banyak hal. Tentang kerasnya hidup, tentang perjuangan, tentang keikhlasan, tentang perbedaan, tentang keberagaman, dan yang penting adalah tentang toleransi. Hidup merantau terutama di luar jawa, seperti saya yang termasuk kaum minoritas merasakan banget, pentingnya toleransi.
Diperantauan mau tidak mau suka tidak suka kita bertemu dengan perbedaan dalam keberagaman. Adaptasi dan toleransi itu sangat penting. Ada pepatah mengatakan Dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung. Jadi dimana pun kita berada harus menghormati kebudayaan dan peraturan daerah itu.
Diperantauan kita akan tahu betul bahwa bukan indonesia namanya, jika tidak beragam. Dan lagi - lagi toleransi menjadi kuncinya. Toleransi bukan hanya soal agama lho bunda, toleransi lebih dari itu. Perbedaan
ras, warna kulit, budaya termasuk juga termasuk dalam masalah toleransi.
selama ini saya mengajarkan toleransi pada mas gea dari hal - hal kecil terlebih dahulu. Kebetulan tuan rumah yang saya tempati setiap hari raya Hindu, mereka selalu datang kerumah untuk bersembahyang. Karena dalam sebulan minimal ada dua upacara di sanggah depan rumah. Mas Gea hampir selalu melihat cara ibadah mereka, ritual mereka.
Awal awal dia hanya memperhatikan dari jauh, sampai suatu ketika dia bertanya kenapa cara ibadah om tante beda dengan kita ?, kenapa om dan tante selalu membawa canang (sesaji ) dan ditaruh di berbagai tempat?. Saya berusaha menjelaskan dengan hati hati dengan kata kata sederhana agar anak kecil usia 4,5 tahun ini mengerti, bahwa begitulah agama mereka, begitulah cara ibadah mereka. Dan ibadah kita begini, tapi kita harus menghormati mereka. alhamdulillah dia mengerti. Dan saya selalu mengingatkan agar mas Gea agar tidak menginjak sesaji, bukannya saya ikut mempercayai guna sesaji itu, hanya saya ingin mengajarkan. Jangan menginjak sarana prasarana ibadah umat lain karena tentu kita tak mau kan alat ibadah kita tanpa sengaja atau tidak dirusak orang lain.
Saya selalu memberi contoh bersikap baik kepada tetangga warga asli Bali, berkumpul dan berteman baik dengan mereka. Dan selalu saya ingat untuk tidak berkomentar apapun tentang budaya ataupun agama mereka. Yang terpenting adalah silaturahmi dan hubungan baik dengan tetangga. Pun saya membiarkan Mas Gea berteman dengan semua teman dan tetangga tanpa batasi tapi tetap saya awasi.
Saya berusaha menegaskan pada anak saya untuk tidak mengejek kebiasan,kepercayaan, ritual, umat lain, kondisi orang lain apapun alasanya.Walaupun dengan candaan. Saya bisikan padanya nasehat untuk tidak melakukannya, bahkan terkadang saya mendogeng yang ceritanya saya karang dadakan saat itu juga , menjelang mas gea tidur. Disinilah saya juga menyisipkan cerita cerita agar dia tidak boleh,menghakimi orang lain, menghina orang lain yang tidak sama dengan dia.
Alasan saya karena saya tidak tahu Suatu saat mas gea akan hidup di tengah masyarakat seperti apa?, hidup bersama siapa?, dengan tahu pentingnya toleransi harapan saya dia tidak ada kaku, kagok dan akan terbiasa dengan perbedaan dalam keberagaman.


Komentar
Posting Komentar