Makam Nyai Ronggeng
Apasih yang menarik hidup di desa? selain hiburan orkes. Orkes melayu dengan lagu-lagu dangdut Ida laila.
Dan malam ini. Barno berjanji untuk berangkat menonton dangdut dengan Mamik. Orkes dangdut kesayangan dengan biduan tersohor di kecamatan, Lasmi. Senyuman Lasmi dan suara Lasmi yang merdu yakin membuat Barno jatuh cinta.
Dikayuhnya sepeda jengki Barno menuju pasar. Tempat Mamik menunggu. Mereka sepakat berangkat dengan sepeda masing- masing.
Bulan bersinar manja. Planet mars berkedip kedip. Orange cahayanya seperti lampu bolp di kamar Barno. Suara orkes melayu semakin keras. Suara merdu mendayu-dayu Lasmi makin kentara. Dada Barno berdetak 5 kali lebih cepat.
"oh Lasmi... , kangmas cinta sama kamu cah ayu" ucapnya lirih.
Orkes melayu berakhir. Itu artinya inilah saaatnya Barno mendekat. Barno menemui Lasmi di belakang panggung.
"No, sabar dulu.. lasmi lagi ganti baju" Mamik tersenyum menarik tangan Barno yang nampak terburu buru.
"Iya Mik, iya aku cuma mau ngomong. Mau tidak aku anterin dia pulang"
"Ya coba dulu.sapa tahu dia mau No, tapi kamu pulang sendiri ya. Aku mau pulang barung Yayuk" Mamik terkekeh.. melirik Yayuk di sebelah nya ..
Lasmi tersenyum melihat Barno datang. Hatinya berbunga. Si tampang ini mau datang lagi di orkesnya.
"Mi. Yo tak anter pulang."
" Mas No ndak kemaleman. Ini sudah jam 11 lho mas"
"Daripada kamu pulang sendirian . Ayo tak anter "
" Bentar ya mas tak bilang Kang Mad" Lasmi beranjak menemui kakaknya sang ketua orkes
Dia menghilang di tengah kerumunan orang di depan rumah pemilik hajatan.
Setengah jam menunggu. Lasmi terlihat di samping rumah. Pemilik hajatan.
Barno mendekati. Lasmi tersenyum. Wajahnya pucat tampaknya dia telah menghapus riasan menornya.
"Ayo tak anterin. Lama sekali aku menunggu kamu. Kog kamu malah disini"
Lasmi hanya mengangguk.tanpa mau menatap Barno. Hening. Hanya suara riuh rendah kerabat yang punya hajat yang terdengar sayup sayup.
"Masih mau nunggu kang Mad?" Barno tak sabar mengantar Lasmi pulang.
"Lasmi. Kog kamu diam aja" Barno berusaha melihat wajah Lasmi yang terus berpaling melihat arah lain.
Tiba tiba Lasmi berdiri. Lalu berjalan ke Arah sepeda Barno.
Barno tersenyum sendiri. Hatinya penuh dengan Kuncup bunga kasih. Ingin dia melambung ke angkasa. Memboncengkan orang yang dia taksir, dia impikan tiap malam. Artis kampung yang dia kagumi kecantikannya..
Rumah Lasmi berdiri megah. Di pinggir kampung. Tapi tak seperti biasanya. Kali ini sepi. Mungkin semua orang di rumah sudah tidur. Lasmi langsung turun. Dia tersenyum dan mengangguk malu malu.
Perempuan tua membukakan pintu untuk Lasmi. Lagi -lagi Lasmi menoleh melihat kearah Barno dan tersenyum.
"Mas. Nginap saja disini" suara nenek tua itu terdengar jelas."Sudah malam" tambahnya memaksa Barno masuk.
Barno seperti mendapat angin segar. Tidur di rumah Lasmi? Kenapa tidak ? Perempuan tua menujukan kamar di pojokan rumah jawa tua itu. Rumah jati kuno besar. Lalu nampak balai -balai besar di dalam kamar. Lasmi tak nampak.Barno berusaha terpejam. Tapi sesekali terdengar suara tawa cekikian dari kamar sebelah. Mungkin lasmi lagi bercanda dengan perempuan di kamar sebelah pikir Barno.
Kokok ayam mengagetkan Barno. Suara banyak orang mengagetkan Barno. Tampaknya tidur pulasnya terganggu.Saat dia membuka mata. Barno kaget. Orang-orang kampung Randu Wono memandanginya aneh. Sesekali mereka berbisik.Dia kaget ternyata di tidur di makam .memeluk batu nisan berlumut. Seingatnya ini makam nyai ronggeng.

Duh.. Serem banget mbak.. Baguus ceritanya.
BalasHapusterimakasih bunda... ini terinspirasi cerita nenek dulu bunda...
BalasHapus